UMROHCERDAS.COM – Di bawah kolong tempat tidur kayu di sebuah rumah sederhana di Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tersimpan sebuah ember tua yang tampak biasa saja. Ember itu tidak terbuat dari emas, tidak pula berisi barang berharga. Namun bagi seorang perempuan lanjut usia bernama Jumaria P Sire Said, ember tua itu adalah saksi perjuangan terbesar dalam hidupnya.
Selama hampir 20 tahun, ember itu menjadi tempat ia menyimpan mimpi menuju Tanah Suci.
Di usia yang kini menginjak 70 tahun, sosok yang akrab dipanggil Nenek Jumaria itu mendadak dikenal luas hingga mancanegara. Namanya disebut sebagai Ikon Haji Indonesia 2026 setelah kisah hidupnya menyentuh hati banyak orang, termasuk pemerintah Arab Saudi yang mendokumentasikan perjuangannya dalam Program Makkah Route.
Namun jauh sebelum dunia mengenalnya, Nenek Jumaria hanyalah perempuan tua sederhana yang hidup sendiri tanpa suami dan anak di masa senjanya.
Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia sudah berjalan menuju sawah dan kebun milik tetangga. Dengan tubuh renta yang tetap kuat, ia bekerja mencangkul, membersihkan rumput, hingga mengurus tanaman demi mendapatkan upah harian. Tak ada kemewahan dalam hidupnya. Bahkan untuk makan sehari-hari, ia sering cukup merebus daun ubi yang tumbuh di sekitar rumah.
Ia tidak hidup dalam kelimpahan. Tetapi ia hidup dengan satu keyakinan besar.
Pesan dari orang tuanyalah yang terus ia pegang sepanjang hidupnya.
“Kalau kau punya uang, pergilah ke Tanah Suci. Pergi mako karena saya sudah tidak bisa pergi.”
Baca Juga : Saudi Percepat Persiapan Haji, Tenda Mina Siap Tampung Jutaan Jemaah
Kalimat sederhana itu menjadi amanah yang tidak pernah ia lupakan.
Sedikit demi sedikit hasil kerjanya disisihkan. Kadang Rp500 ribu. Kadang Rp700 ribu. Kadang hanya Rp20 ribu atau Rp50 ribu. Semua uang itu ia simpan diam-diam di dalam ember tua yang ditutup kain lusuh agar tidak menarik perhatian orang.